Section title text:  Archived News.

Serikat Sahabat Setia Yesus (FCJ) di Kupang, Timor Barat

Selamat dating dari Kupang, Afra!!

Setelah kerja bersama Jesuit Refugee Service (JRS) di Kupang selama 1 tahun, hari Natal yang lalu Afra menghadiri kongres untuk Provinsi Baru di Australia. Bulan Januari 2001, dia kembali ke Yogyakarta dimana dia sebelumnya belajar dan menyelesaikan studi teologinya. Untuk informasi tentang kegiatannya di Kupang, silakan menyimak artikel tentang karya kerasulannya bersama para pengungsi di Kupang

Sejak September 1999 ketika banyak orang Timor-Timur ingin merdeka dari Indonesia, banyak orang Tim-Tim melarikan diri karena adanya kerusuhan yang hebat dan pembunuhan oleh mereka yang tidak setuju dengan hasil referendum yang ingin merdeka dari Indonesia. Kebanyakan dari mereka mengungsi ke Timor Barat. Karena kebutuhan yang besar di sana, atas permintaan dari JRS, Serikat FCJ setuju untuk mengirim Sr Afra Primadiana, FCJ dan Francisca Yohana Sri Winarsih (Inez), seorang postulan untuk bekerja dengan JRS di Timor Barat.

Afra with Timorese ladySuster Afra berangkat ke Kupang pada tanggal 11 Februari 2000. Saat itu ada sekitar 125.000 pengungsi di kamp-kamp di Timor Barat. JRS menemani para pengungsi di tiga kamp; Atambua, Betun( keduanya dekat perbatasan Timor Barat dan Timor Timur) dan Kupang. Sr Afra langsung mulai mengunjungi kamp-kamp di Kupang setiap hari, ditemani hujan yang membuat kamp basah dan berlumpur sambil belajar mengenal orang dan situasi di sana

Kehadiran JRS di kamp adalah untuk menemani para pengungsi dan melayani kebutuhan di sana serta membela hak-hak mereka. Mengingat banyaknya informasi yang keliru tentang Timor-Timur kami melihat tingginya kebutuhan untuk membantu para pengungsi dengan memberikan pada mereka informasi yang akurat. Kami menawarkan untuk membawa surat-surat mereka ke Timor-Timur dan untuk membawakan surat-surat dari keluarga kepada mereka.

Kami menunjukkan foto-foto terakhir dan memberikan informasi yang benar tentang situasi dan orang-orang di TimTim sehingga mereka tahu bahwa rumor itu tidak benar. Kebanyakan orang Tim-Tim adalah Katolik sehingga pada masa yang membingungkan ini banyak dari mereka lebih percaya kepada para suster dan pastor dalam hal memberikan informasi yang benar tentang Tim-Tim.

Afra with Timorese man and child.Pada tanggal 28 Februari 2000, Sr Afra pergi ke Ambeno (Tim-Tim).

Ini merupakan pengalamannya yang pertama melihat langsung sisa-sisa kerusakan dan kebakaran akibat peristiwa September 1999. Banyak rumah yang hancur...;. Dilain pihak Sr Afra melihat banyak anak bermain dengan gembira menikmati suasana kemerdekaan dan kebebasan. Dari apa yang dilihatnya itu, harus diakui bahwa anak-anak di Tim-Tim tampak lebih bahagia daripada mereka yang berada di kamp di Timor Barat. Hal itu memotivasi Sr Afra untuk lebih membantu orang-orang Tim-Tim untuk kembali ke kampung halaman mereka.

Pada tanggal 17-19 Maret 2000 volunteer JRS dari Kupang, Atambua, dan Betun berkumpul di Betun untuk lokakarya. Mereka juga pergi ke perbatasan untuk melihat makam korban pembunuhan masal di Suai bulan September 1999, termasuk seorang pastur Jesuit yang baru saja ditahbiskan. Sangat menyenangkan ikut dalam pertemuan JRS ini, karena ada banyak orang muda yang penuh cinta dan semangat tinggi untuk membantu para pengungsi.

Tinggal di kamp berdesak-desakan tentu saja menimbulkan banyak konflik sosial. Pada tgl 8 April ada suatu perkelahian yang hampir menjadi perang diantara para pengungsi. Seorang pengungsi terbunuh dan banyak keluarga yang mengungsi lagi ke tempat-tempat terdekat yang dirasa aman. Banyak insiden juga terjadi dengan penduduk setempat yang kemudian takut kepada para pengungsi.

Inez with Timorese people.Inez datang bergabung dengan Sr. Afra dan JRS Timor Barat tgl 18 April 2000. Petang itu Afra dan Inez sudah berada dalam bis ke Atambua dan hari berikutnya mereka pergi ke Timor-Timur dengan volunteer JRS yang lain. Di sana Inez dan Afra menghabiskan waktu Pekan Suci mengunjungi Lospalos dan Viqueque. Meskipun tidak diharapkan (karena tidak bisa memberitahu kedatangan kami sebelumnya, tidak ada telpon di luar Dili ) sambutan mereka sangat hangat. Orang–orang di Timor-Timur sungguh-sungguh haus untuk mendengar kabar tentang keluarga dan teman-temannya yang masih di kamp.

Kami mengantarkan dan mengumpulkan surat-surat serta memotret mereka. Waktu kami kembali ke kamp Kupang, surat-surat dan foto ini membuat haru banyak orang di kamp. Mereka mengungkapkan kebahagiaan mereka mendengar berita tentang keluarga atau merasa lega untuk melihat situasi di Timor-Timur yang tidak seburuk yang diberitakan,

Afra with mother and baby.Afra in a discussion.Ini adalah suatu pengalaman yang khusus dan berharga, bisa menjadi saluran dan kontak bagi orang-orang yang terpisah karena konflik politik.

Inez dan beberapa volunteer yang lain melakukan perjalanan ke Timor-Timur pada tgl 29 Juli sampai 6 Agustus. Mereka membuat beberapa film tentang situasi dan orang-orang di TimTim. Tetapi karena tidak semua orang menyukai apa yang kami buat di kamp (menyebarkan berita benar) - khususnya mereka yang tidak ingin orang Tim-Tim kembali - kami tidak menyiarkan video tersebut di kamp. Kami mengundang kelompok-kelompok kecil untuk melihat video di rumah kami dan mendiskusikannya setelah itu. Pada tgl 25 Agustus Inez kembali ke Yogyakarta untuk melanjutkan formasionya. Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa bersama para pengungsi: mengenal mereka secara personal, membantu pemulangan pengungsi dan membantu beberapa perempuan untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan membuat tenunan tradisional.

Bulan September 2000 kami mempunyai rumah kontrakan yang baru. Kami juga mempunyai direktur baru Rm Edi Mulyono, S.J. Tgl 6 September ada insiden yang serius di Atambua. Ketika itu seorang pemimpin milisi diketemukan terbunuh dan tiga staf UNHCR kemudian terbunuh oleh massa milisi yang mengamuk. PBB mengevakuasi stafnya dan juga seluruh anggota LSM yang bekerja menangani pengungsi. Volunteer JRS di Atambua dan Betun mengungsi ke Dili, Timor-Timur. JRS di Kupang menjadi satu-satunya LSM yang ada di kota dan hadir di kamp. Kami mencoba untuk tetap hadir demi pengungsi tersebut, tapi di saat yang sama harus bertindak hati-hati karena ada pihak-pihak yang tidak suka orang-orang yang membantu pemulangan atau memberikan informasi yang benar. Kebutuhan dan situasi di kamp kini berubah karena sekarang tidak ada lagi LSM lain yang bekerja di sana.

Di Timor-Timur pada tgl 6-9 Nopember kami mengadakan pertemuan gabungan antara JRS Timor Barat dan JRS Timor-Timur. Bersama-sama kami berdoa, rileks sekaligus menjernihkan visi dan misi kami sebagai kelompok. Setelah pertemuan, Sr. Afra dan beberapa teman pergi ke Viqueque mengunjungi para pengungsi yang kembali. Sr. Afra menemukan bahwa tidak semua pengungsi yang kembali tersebut diterima di desa mereka. Banyak pengungsi masih takut untuk keluar dari rumah mereka meskipun mereka telah kembali selama beberapa minggu bahkan berbulan-bulan. Rekonsiliasi sungguh-sungguh diperlukan untuk memaafkan dan minta maaf dan bersama-sama memulai periode baru kehidupan.

Afra with Timorese Mother and children.Sebelum Natal, orang-orang di kamp di Tuapukan bekerja saling membantu dengan orang-orang Katolik setempat untuk mempersiapkan perayaan Natal. Tetapi meskipun mereka sudah mencoba dengan sekuat tenaga merencanakan perayaan yang meriah, banyak diantara mereka yang menangis selama liturgi berlangsung karena ingat keluarga mereka yang sudah meninggal atau masih di Timor-Timur.

Sebelum Natal, orang-orang di kamp di Tuapukan bekerja saling membantu dengan orang-orang Katolik setempat untuk mempersiapkan perayaan Natal. Tetapi meskipun mereka sudah mencoba dengan sekuat tenaga merencanakan perayaan yang meriah, banyak diantara mereka yang menangis selama liturgi berlangsung karena ingat keluarga mereka yang sudah meninggal atau masih di Timor-Timur.

Afra Primadiana fcJ

Logo - JRS Refugee Service.Jesuit Refugee Service

Kembali ke berita arsip …

Serikat kita yang kecil ini bertujuan
     memuliakan hati Yesus
           dengan segala cara yang bisa dibuat Serikat ...     (Marie Madeleine)