ocument.write(' --'); document.write('>');
Antuk mengenal para FCJ dan kerasulan mereka di berbagai belanan dunia, klik di sini.

Suster FCJ pertama yang datang ke Indonesia tiba pada bulan Desember 1987. Segera setelah kedatangannya, seorang suster lain datang untuk menemani dia. Oleh karena itu pada tahun 1988, mulailah terbentuk sebuah komunitas kecil di Yogyakarta. Dua suster itu, yang pertama berasal dari Australia dan yang lain berasal dari Inggris, mengajar bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma yang dikelola oleh para Yesuit. Sejak tahun 1993 sampai dengan 1997, kami juga memiliki sebuah komunitas di Kupang, Timor Barat.

Pada tahun 1991, kami menerima dua postulan Indonesia yang pertama, dan di tahun 1994, dua orang suster Indonesia pertama itu yaitu Agnes Samosir dan Afra Primadiana mengikhrarkan kaul pertama. Mulai tahun 1992, suster-suster dari Irlandia, Inggris dan Australia yang lain juga diutus ke komunitas Indonesia. Mereka terlibat dalam karya mengajar bahasa Inggris, dalam bidang keperawatan dan keluarga berencana alamiah, pastoral dan yang lebih penting lagi adalah pembinaan hidup religius di dalam Serikat.

Pada tahun 1998, kami membuka rumah kedua di Baciro, Yogyakarta. Suster-suster Indonesia yang baru berkaul sambil melanjutkan studi, terlibat juga dalam bidang pendidikan, karya pastoral dan kegiatan rohani orang muda yang bertujuan untuk menghidupkan semangat hidup mereka. Apa yang dimulai oleh dua orang suster di tahun 1988, kini telah berkembang menjadi enam belas suster di tahun 2001, sebelas di antaranya adalah suster Indonesia.

Hasrat kami yang kuat adalah untuk misi dan kerasulan bagi perempuan, untuk terlibat dalam dialog antaragama, untuk menawarkan spiritualitas Ignatius sebagai dasar bagi pendampingan rohani dan animasi, untuk menjadi sahabat bagi banyak orang- baik Kristen maupun Muslim yang keduanya saat ini sedang berjuang dalam situasi Indonesia yang tidak stabil.

Kami percaya bahwa masa depan penuh tantangan tetapi juga penuh harapan bagi negara kami Indonesia. Kami disemangati oleh kesadaran bahwa banyak hal yang bisa kami persembahkan lewat kharisma kami -bukan dengan menciptakan 'pekerjaan' kami sendiri, melainkan dengan persahabatan yang mempunyai ciri bekerja dan berjalan bersama orang lain.

Semoga Tuhan memberi kami kebijaksanaan dan keberanian untuk menjadi saksi Kabar Baik bagi penduduk Indonesia.

Untuk membaca kisah kerasulan kami,
silakan klik bintang di samping nama kami:
Sister Dewi
Sister Afra Sister Rachel
Sister Elvisa
Sister Agnes D.
Sister Rosa
Sister Inez
Sister Agnes S.
Sister Sisca
Sister Irene
Sister Beta
Sister Wina
Sister Margaret
Sister Ciony
Sister Yuni
Sister Marion
Sister Clare
Sister Yustin
Sister Narni

Afra, fcJ

"Menjadi seorang religius bukanlah pekerjaan, melainkan cara hidup."

Kelihatannya mudah untuk mengisi formulir
pada bagian pekerjaan.
Teman-teman saya biasanya hanya menulis:
Pekerjaan: SUSTER.
Bagi saya, suster atau menjadi religius bukanlah suatu pekerjaan, melainkan suatu cara hidup.

Saya sekarang tinggal di Ende,
memulai sebuah komunitas baru di sini.
Itu juga berarti membawa FCJ kepada orang-orang baru di daerah baru.
Di sini saya bekerja untuk dan bersama orang muda. 
Saya masuk dalam Tim Pastoral Pelajar Keuskupan Agung Ende
yang memberikan pelatihan kepemimpinan,
pengembangan kepribadian serta retret bagi para pelajar. 
Saya juga melakukan pendampingan pastoral bagi para mahasiswa
yang kos atau tinggal di asrama di sekitar Ende.

Saya sangat menikmati semua ini.
Yang memberi saya kebahagiaan ialah bukannya APA yang saya kerjakan melainkan BAGAIMANA saya melakukan pekerjaan saya.
Proses pembedaan roh (discernment) membantu
saya untuk bekerja dengan penuh kepercayaan diri,
karena melakukan hal-hal yang memang perlu dibuat
dan bahwa saya melakukan yang terbaik
yang saya mampu.
Satu hal yang pasti adalah saya bertumbuh oleh tantangan-tantangan yang telah saya hadapi

Di dalam kerasulan saya, saya bertemu orang-orang, bertemu dengan hati mereka.
Setiap pribadi itu unik dan saya bersyukur bahwa saya dapat membantu mereka
menemukan keindahan di dalam diri mereka
serta menemani mereka dalam mempererat relasi pribadi mereka dengan Allah.

Inilah cara menghidupi karisma (semangat) FCJ:
dengan menjadi sahabat Yesus dan sahabat bagi orang lain.
Pengalaman menemani sering membuat saya bersimpuh di hadapan Allah
dengan syukur, takjub dan juga pujian
karena saya dapat melihat dan diperbolehkan terlibat
di dalam keindahan setiap orang
yang telah diciptakan dan dicinta Tuhan

Kerinduan saya?
Menolong sesama
untuk menemukan Tuhan dan hidup di dalam Tuhan
dengan kegembiraan dan kebebasan.
Apakah kamu menghidupi imanmu dengan gembira?

Agnes Dinihari, fcJ

Agnes Samosir, fcJ
"Saya Melihat Yesus Yang Sungguh-Sungguh Manusia..."

Setelah berkaul pertama (1994), saya diutus untuk mengajar di SD Eksperimental Mangunan di Yogyakarta. Sambil mengajar, saya melanjutkan belajar Bahasa Inggris di Extension Course, Universitas Sanata Dharma dan juga terlibat dalam kerasulan bersama-sama anak muda.

Tiga tahun setelah kaul pertama, saya diutus ke Manila untuk belajar. Saya belajar Spiritualitas Krsitiani di Institute of Formation and Religious Studies. Setelah 3,5 tahun belajar, saya kembali ke Indonesia.

Sekarang saya mengajar di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, suatu perguruan tinggi Katolik yang dikelola oleh awam. Saya juga terlibat di Campus Ministry.

Saya sungguh menikmati pekerjaan saya: mengajar dan menemani para penghuni kampus. Cukup sering melalui perjumpaan ini saya melihat Yesus yang sungguh-sungguh manusia. Kegembiraan mereka adalah kegembiraan Yesus.

Air mata mereka adalah air mata Yesus. Tawa mereka adalah tawa Yesus...; kesakitan mereka adalah kesakitan Yesus. Saya sering bersyukur atas pengalaman ini yang telah membuka mata saya untuk melihat misteri dan ketakjuban hidup.

Beta, fcJ
Hatiku menangis bersama mereka yang menangis
Hatiku bersedih bersama mereka yang bersedih
Tapi cukupkah itu?
Dari perjalananku kerasulanku saat ini, mempunyai simpati pada orang-orang yang menderita tidaklah cukup. Paling tidak aku juga diajak untuk menolong mereka keluar dari derita mereka. Belas kasih memang memjadi landasan yang sangat kuat, tetapi diperlukan juga kemampuan dan ketrampilan untuk melakukannya.
Kerasulanku saat ini adalah bekerja sebagai pekerja sosial di sebuah LSM. LSM ini bekerjasama dengan CCF(Christian Children's Fund)- Indonesia. Anak menjadi fokus utama di LSM ini. Anak-anak yang didampingi mempunyai orang tua sponsor dari luar negeri. Menemani anak-anak klien menulis surat untuk orang tua sponsor mereka dan menerjemahkannya dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris adalah salah satu tugas yang saya kerjakan. Menjadi kehormatan bagiku dapat membaca dan menerjemahkan surat mereka. Ketika saya melakukan hal itu, saya sering tersentuh dengan relasi yang terjadi antara anak-anak itu dengan orang tua sponsor mereka. Saya sungguh menikmati kerasulanku saat ini.

Pengalamanku ada bersama mereka membawaku pda kesadaran yang semakin dalam bahwa setiap pribadi itu unik dan mempunyai potensi yang besar untuk berubah. Kesabaran terhadap proses perubahan yang terjadi juga menjadi pengalaman yang sangat berharga bagiku. Sekecil apapun setiap perubahan akan menjadi kekuatan-kekuatan yang saling kerkaitan yang akhirnya akan membawa pada keadaan yang lebih baik.

Aku mempunyai mimpi bahwa suatu hari bumi yang kita diami ini akan menjadi seperti taman 'Eden'. Setiap orang...;perempuan dan laki-laki...; besar maupun kecil...;. Siapa saja...; hidup dalam keadilan dan perdamaian...; suatu hari...;

Ciony, novice fcJ
"... petualangan adalah kata yang saya sukai ..."
Nama saya Salvacion Tejada Sodusta dari Filipina. Petualangan adalah kata yang saya sukai ketika saya berada di tempat yang baru. Diutus ke Indonesia untuk menjalani masa novisiat adalah kesempatan yang luar biasa. Perbedaan tradisi, budaya dan makanan sangat menarik.

Hidup dalam lingkungan yang baru dan dengan orang-orang baru adalah pengalaman yang luar biasa. Salah satu kerasulan saya disini adalah belajar bahasa Indonesia yang merupakan suatu rahmat. Bahasa Indonesia banyak membantu saya untuk berkomunikasi dengan orang lain di luar komunitas Soropadan, Yogyakarta. 

Saat ini, Agnes Dini, Dewi dan Elvisa serta saya mengunjungi lingkungan di Paroki kami. Orang-orang yang saya temui membantu saya untuk mempraktekkan bahasa yang saya pelajari dari kampus dan dari suster - suster kita. Sejauh ini, saya menikmati berkomunikasi dengan orang lain meskipun Bahasa Indonesia saya terbatas.

Clare, fcJ
“...; membuat impian Tuhan menjadi nyata bagi dunia”
Pada awal kehidupanku sebagai religius, aku diberi kepercayaan untuk membina pendidikan agama dan prtumbuhan rohani murid-murid di sekolah khusus perempuan yang cukup besar di London, Inggris.

Lima tahun terakhir aku tinggal dan bekerja di Indonesia, aku melayani Tuhan dengan berbagai hal. Pada saat ini aku menjadi pemimpin lokal dimana saya tinggal dan sebagai pembimbing novis, aku terlibat dalam pendampingan suster-suster fcJ yang baru.

Di samping itu, aku mengajar Sejarah Inggris, Budaya Inggris, dan Percakapan di Universitas Sanata Dharma. Adalah saat yang khusus sekaligus menyentuh bagiku, ketika murid-murid datang kepadaku untuk konseling dan bimbingan rohani.

Aku punya ketertarikan khusus pada doa ekumene dan dialog antar agama. Akupun aktif dalam keompok doa ekumene Internasional.

Aku senang bekerja dengan orang muda, dengan perempuan, dan mereka yang miskin. Aku senang mengajar pendidikan agama, terutama Kitab Suci. Aku senang memberi homili dan memimpin pujian.

Aku ingin mengisi hidupku dalam pelayanan kepada Tuhan dan umatNya. Aku ingin kerja bersama dengan Tuhan dan sesama untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik, dan bagiku itu berarti membuat KerajaanNya menjadi nyata.

Hal yang membuatku bertumbuh dalam relasi dengan Tuhan adalah Kitab Suci, tentunya! Bagiku itu makanan dan munuman. Aku bertumbuh lewat berdoa dengan merenungkan Kitab Suci, dan dengan berenang aku meluangkan waktu sendiri bersama Tuhan dan berefleksi.

Sebagai seorang fcJ, aku hidup dalam pelayanan kepada Tuhan yang aku cintai dan yang terus kujumpai dalam Kitab Suci, dalam perjumpaan dengan orang lain, dan dalam dunia. Aku siap untuk pergi kemanapun dan melakukan berbagai hal untuk menjadikan mimpi Tuhan nyata bagi dunia kita.

Dewi, novis fcJ

"Semoga apa yang kulakukan dapat memuliakan Allah"

Saya diterima sebagai novis pada tanggal 14 september 2005. Sebagai Novis saya mendapat pelajaran-pelajaran dan bimbingan, saya juga ikut kursus bahasa Mandarin dan juga melakukan kegiatan kerasulan di lingkungan sekitar rumah.

Dalam kegiatan kerasulanku, saya mengunjungi keluarga-keluarga Katolik di Lingkungan/Paroki kami, yaitu Lingkungan Pringwulung I - Paroki Santo Yohanes Rasul.

Dalam kunjungan-kunjungan yang saya lakukan, kadang-kadang bersama Novis yang lain, saya menemani orang-orang dan mendengarkan cerita mereka.

Kebanyakan orang-orang yang dapat saya temui pada siang hari adalah perempuan-perempuan dan orang-orang tua. Di dalam pembicaraan-pembicaraan  yang saya alami sampai saat ini saya dapat merasakan betapa orang-orang membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan dan menemani mereka, baik tentang hal sehari-hari maupun hal rohani.

Saya juga ikut serta dalam kegiatan di lingkungan seperti doa rosario , pendalaman Kitab Suci  atau misa lingkungan, sejauh saya bisa. Acara-acara doa bersama ini biasanya dilakukan pada malam hari, sehingga kadang-kadang beberapa anggota komunitas  bisa ikut datang juga.

Orang-orang di lingkungan kami sangat ramah dan bersahabat, hal ini membuat saya merasa cukup mudah untuk terlibat di dalam kegiatan yang ada. Saya berharap kerasulanku ini dapat makin memberikan kegembiraan kepada orang yang kutemani dan diriku sendiri dan dapat memuliakan Tuhan.

Elvisa, novice fcJ
Semua yang untuk kemuliaan Tuhan.
Sr. Elvisa dan Sr. Clare

Nama saya Elvisa D. Camilion, novis fcJ dari Filipina.  Saya ada di Indonesia untuk formasio novis.  Tinggal di dalam negara lain adalah tentangan  besar dan kesampatan untuk saya, kususnya tahu bahasanya dan sosial budaya disini juga.

Kerasulan saya, bukan hanya di dalam formasio tetapi belajar bahasa dan budaya Indonesia.  Saya mengunjungi keluarga-keluarga di lingkungan kami, juga mengunjungi dan mengurus orang sakit.  Bertemu dengan orang-orang sangat membantu saya untuk latihan berbicara bahasa mereka.  Saya membantu juga untuk rekoleksi perampuan muda dan kelas persiapan krisma.  Saya terlibat juga dengan Kampus Ministri di Universitas Sanata Dharma.  Saya membantu disana kususnya kelompok bahasa ingris untuk menyapkan Misa bahasa ingris setiap bulan.  Berbicara dan mendangar cerita-cerita dari mahasiswa adalah satu cara menunjukkan karisma kita, Sahabat Setia Yesus.  Saya harap kerasulan ini membantu promosi penggilan kita juga.

Salama waktu formasio saya di dalam novisiat, saya masih ada waktu untuk bermain gitar dan belajar bermain piano.  Hal ini membantu saya mendapatkan energi lagi.

Inez, fcJ
“Bukan tentang banyakya namun dalamnya”

Kerasulan saya yang utama adalah mengajar di Universitas Sanata Dharma ( Yogyakarta ) dan menjadi koordinator tim gempa FCJ.  Di luar dua hal tersebut, saya mengerjakan ini-itu yang sering lebih menyita waktu.  Ijinkanlah saya bergbagi cerita sedikit mengenai kedua kerasulan tersebut.

Teaching. Saya bergabung di Departemen yang mengelola Matakuliah Pengembangan Kepribadian  (MPK).  Semester ini saya mengampu Moral Teologi dan Filsafat Ilmu Pengetahuan.  Keluhan klasik mereka adalah : Mereka belajar banyak namun tidak tahu untuk apa? Ada kesenjangan antara studi dengan realitas yang mereka jumpai.  Lalu, yang saya upayakan adalah agar para mahasiswa akrab dengan MK yang saya ampu, bahwa itu dekat dengan kehidupan riil mereka dan selanjutnya dapat digunakan untuk mengembangkan kepribadian mereka. 

Memang ada tuntutan materi yang harus selesai namun seperti kata St. Ignatius: Bukan tentang banyakya namun dalamnya.  Saya meminta mahasiswa membuat refleksi sederhana di setiap akhir jam pertemuan:  menuliskan hal-hal yang signifikan yang dijumpai selama diskusi kelas dengan hidup mereka masing-masing.   Adalah mengharukan membaca apa pun yang mereka tulis.  Ada yang menulis “Saya sekarang bangga menjadi perempuan”, atau “Saya memahami bahwa tubuh adalah bait Allah maka saya akan menjaga dengan hati-hati ketika berpacaran” atau “Saya sadar betapa tergantungnya saya kepada teknologi yang bernama HP.  Saya akan berusaha melepaskan diri dari ketergantungan pada HP lalu menggunakannya dengan proporsi yang benar” atau sekedar menulis “Ternyata belajar filsafat itu banyak manfaatnya”. 

Saya sangat menikmati kerasulan ini.  Mengajar saya emban sebagai tugas mempersiapkan generasi muda untuk menyongsong masa depan yang semakin tidak mudah.  Melihat mereka berkembang dalam pemahaman akan hidup sungguh memberi energi kepada saya.  Seringkali pada akhir hari, dalam pemeriksaan batin, saya bersyukur penuh terimakasih atas perjumpaan dengan para mereka.  Kerasulan ini mengharukan dan memberi energi.

Koordinator Tim Gempa FCJ.  Bersama dengan lima relawan yang bekerja penuh waktu, saya melanjutkan kegiatan kemanusiaan di antara kurban gempa di Bantul Yogyakarta .  Semboyan kami adalah “Melayani dalam Persahabatan” karena memang dalam semangat persahabatan kami datang.  Pada awal terjadinya gempa, bantuan lebih berupa logistic yang adalah kebutuhan dasar. Seiring berjalannya waktu, pelayanan kami bergeser ke bantuan material untuk konstruksi rumah sederhana (ukuran 4 x 7) bagi mereka yang belum menerima bantuan dari pihak manapun, pendampingan Income Generating Project untuk perempuan, serta bantuan pendidikan.

Sampai sejauh ini 194 rumah sederhana sudah didirikan, 29 perempuan aktif dalam usaha kecil mereka, dan beberapa siswa & TK dibantu dengan keperluan sekolah.  Jujur, yang paling menarik adalah mendampingi IGP Project.  Mereka adalah perempuan-2 tangguh dengan semangat pantang menyerah dan keinginan besar untuk mengubah kondisi hidup.  Misalnya Ibu Juanah.  Ia punya bisnis telur asin yang menjanjikan.  Setiap hari ia menjual 120 butir telur asin dengan keuntungan Rp. 300,- per butir, Sayang, issue flu burung mengancam bisnisnya karena sulitnya mendapatkan bahan baku .  IGP memungkinkan mereka untuk secara ekonomi mandiri. 

Irene, fcJ

"Belajar menjadi Sahabat Setia Yesus secara nyata."

Saya suka mendidik anak-anak, maka saya memilih untuk belajar menjadi guru. Setelah saya mengikrarkan kaul pertama, saya diutus menjadi guru di sebuah sekolah Katolik di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Saya mencintai murid-murid saya. Mereka adalah teman-teman yang mengajak saya untuk belajar. Di sekolah itu saya belajar menjadi Sahabat Setia Yesus yang nyata, belajar menjadi sahabat bagi orang yang lemah, kecil, dan miskin.
Tantangan-tantangan yang saya terima menarik saya untuk keluar dari diri saya sendiri dan berpusat pada orang lain. Pengalaman ini tidak mudah, karena masalah-masalah yang dihadapi cukup kompleks. Kurangnya dana sangat mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah. Apalagi dengan adanya sistem pendidikan yang kurang mendukung bagi sekolah miskin seperti itu. Dalam situasi yang sulit itu, kami terus berusaha mendidik murid-murid sebaik-baiknya. Saya percaya bahwa Tuhan masih terus bekerja di sekolah kami lewat hal-hal yang kecil yang kadang kami tidak dapat melihatnya sekarang ini, karena buah dari karya pendidikan baru dapat dilihat jauh di depan nanti.

Margaret, fcJ

Saya tiba di Yogyakarta bulan Desember 2004 dari Irlandia dan mulai belajar bahasa dan budaya Indonesia di Pusat Bahasa Universitas Sanata Dharma milik Yesuit. Sekarang saya di Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma membantu para mahasiswa melalui percakapan Bahasa Inggris dan mengoreksi skripsi mereka.

Saya sekarang pemimpin komunitas Baciro, menemani suster-suster kaul sementara, membagikan hidup dan spiritualitas FCJ dengan para novis dan postulant.

Marion, fcJ
"Aku memilih dengan cermat, bahan-bahan yang dapat membantu meningkatkan martabat perempuan, hak-hak azasi manusia serta keadilan di muka bumi ini"
Semenjak aku datang ke Indonesia pada tahun 1992, aku sudah berpindah tempat tinggal sebanyak 11 kali selama kurun waktu 10 tahun. Bayangkan!! Aku berpikir, tidak akan ada seorangpun yang dapat menyaingiku dalam hal ini, bahkan jika dia seorang duta bangsa. Kenyataannya beginilah rasanya menjadi seorang duta Kristus itu.
Saat aku datang pertama kali ke Indonesia, tahun 1992, hasratku yang terbesar adalah bekerja dengan kelompok-kelompok perempuan yang ada, membantu mereka untuk membangun kesadaran tentang harkat dan martabatnya sebagai seorang perempuan, bahagia sebagai seorang perempuan dan menghargai diri mereka dengan lebih baik dalam hidup bermasyarakat dan menggereja, karena selama ini masyarakat dan Gereja memandang rendah pengalaman para perempuan.

Sekarang aku menemukan kenyataan bahwa aku melatih sahabat-sahabat Indonesiaku dalam Serikat untuk menjadi sadar tentang ketidakadilan yang menimpa perempuan, karena mereka bekerja dengan dan untuk perempuan serta kelompok-kelompok perempuan. Aku sungguh mempercayai pekerjaan ini dan dengan melatih mereka yang akan memberikan pelatihan pada orang-orang lain, aku meningkatkan kemampuanku serta membuat adanya multi efek dari apa yang aku kerjakan itu ...; efek itu jauh lebih besar dari apa yang pernah aku mimpikan atau kerjakan jika aku bekerja sendiri di lapangan.

Pada waktu aku mengajar bahasa Inggris di Universitas Widya Mandira, Kupang, dan Atma Jaya, Yogyakarta, aku dengan hati-hati memilih bahan-bahan yang dapat membantu meningkatkan martabat perempuan, hak-hak azasi manusia dan keadilan di dalam dunia kita.

In teaching English, first at Widya Mandira University, Kupang, West Timor, and now in Atma Jaya University, Yogyakarta, I carefully select material that will promote the dignity of women, human rights and justice in our world. It is really important to me that I help the students to find their voices, to analyze critically and to give expression to their experiences and beliefs.

(Marion is presently on sabbatical. Read about it here.)

To read Marion's reflections on her experience of the earthquake in 2006,
click here.

Narni, fcJ

"…Biarlah anak-anak itu dating kepadaKu, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka,

sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah…"
(
Lukas 18:16)

Salah Satu Dari Pengalamanku Bersama Anak-Anak di Flores

Jika anak-anak belajar dari kehidupan mereka
Tentang bagaimana orang lain memperlakukan mereka,
Bagaimana lingkungan sekitar mempengaruhi kehidupan mereka
Melalui apa yang mereka lihat, rasakan darn terima dari segala hal
yang ada di sekitar mereka.

Akupun belajar dari pengalaman bersama anak-anak
Mengetahui lebih banyak tentang masa laluku sebagai seorang anak
Aku dapat melihat dari wajah dan ekspresi mereka
Di sana ada segunung harapan, keceriaan seperti bunga yang sedang mekar dan kegembiraan seperti mentari yang bersinar pada mata mereka.

Aku melihat banyak ekspresi pada diri mereka . . . .
Rasa malu, rasa ingin tahu, kejujuran,
Keterbukaan, kepercayaan, ketergantungan
sebagaimana kebebasan dalam mengekspresikan segala sesuatu.

Hal yang terbesar adalah
Kebutuhan mereka untuk mencintai dan dicintai
Mereka sangat ramah dan terbuka

Dalam kesederhanaan, aku menemukan sesuatu
yang  sungguh berharga
Syukur kepadaMu Tuhan karena Engkau telah mengirim anak-anak
Flores ini menjadi bagian dari hidupku.

Rachel, fcJ Saya tiba di Yogyakarta pada bulan Januari 2005 dari Filipina. Saya tinggal di Filipina sejak tahun 1988.

Sejak saya tiba di Indonesia, saya belajar bahasa dan budaya Indonesia di Pusat Bahasa Universitas Yesuit Sanata Dharma.

Sekarang ini saya tinggal di komunitas Baciro untuk membagikan kehidupan dan spiritualitas FCJ dengan para novis dan para suster di Indonesia.

Saya pernah bergabung dengan sebuah kelompok doa perempuan internasional dan saya berharap agar saya dapat berbagi hidup dan iman dengan komunitas yang lebih luas sejalan dengan bertambahnya ketrampilan berbahasa Indonesia saya.

Saya akan mulai mengajar Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma tahun 2006.

Rosa, fcJ
Saya berharap dapat terus dapat menjadi
bayangan Tuhan seumur hidupku ...

Namaku Rosalia Listyaningsih, saya seorang novis FCJ.

Di dini saya menceritakan kerasulanku sejak saya menjadi seorang postulan FCJ. Kerasulanku ketika postulan adalah sebagai relawan di Yayasan Sayap Ibu. Yayasan ini merupakan panti asuhan dan tempat perlindungan bagi perempuan-perempuan yang sedang hamil baik yang telah terikat perkawinan maupun yang belum. Saya bekerja disana dua hari seminggu, pada hari Kamis dan Sabtu dari pukul 9 pagi sampai pukul 3 siang.

Pekerjaanku adalah merawat bayi-bayi, bermain dengan mereka, memberi mereka makanan dan susu, melipat serta merapikan pakaian bayi dan membersihkan kamar-kamar.

Pada awalnya, pekerjaan ini sulit untuk saya, tetapi setelah sebulan di sana, saya menikmati pekerjaan itu. Lewat pekerjaan itu saya dapat melihat cinta dari sudut pandang baru, belajar sabar dan menemukan Tuhan lewat pekerjaan ini.

Setelah bekerja selama empat bulan, dibentuklah sebuah organisasi para relawan, sehingga saya sekarang memiliki banyak teman. Kami saling melengkapi, memberi dukungan dan berbagi pengalaman satu sama lain, sehingga saya mendapat energi untuk lebih berbagi diri dan cinta untuk orang lain.

Pengalaman kerasulan saya yang lain adalah mengikuti kursus rias pengantin Jawa. Inilah foto saya ketika sedang mengikuti ujian rias pengantin.

Pengalaman dicintai Tuhan membuatku semakin berani menanggapi panggilan Tuhan dengan menjadi seorang novis FCJ. Saya diterima sebagai novis pada tanggal 21 September 2002 oleh Sr. Clare sebagai pemimpin novis. Saya berharap dapat terus dapat menjadi bayangan Tuhan seumur hidupku, maka dalam upacara penerimaan novisku aku memilih lagu 'Only a Shadow' (Cintaku pada-Mu Tuhan hanyalah sekedar bayangan cinta-Mu padaku...;) untuk mengungkapkan kerinduanku menjadi tanda dari Kristus pada yang lain.

Awal kerasulanku sebagai novis adalah bekerja sebagai relawan di Yakkum (Pusat Rehabilitasi Peyandang Cacat Tubuh). Saya pergi ke Yakkum seminggu sekali. Perjuangan untuk tetap bertahan hidup dengan keterbatasan fisik, bahkan mau membagikan diri dan cinta mereka pada yang lain memberiku kekuatan dan inspirasi 'betapa luar biasanya karya Tuahn' lewat mereka.

Pada hari lain aku belajar menjadi seorang FCJ melalui pelajaran-pelajaran dan pekerjan rumah serta kursus bersama novis-novis dari tarekat lain, seperti analisis sosial Gereja, Mazmur, pekan kaul, hukum kanonik Gereja, ajaran sosial Gereja.

Itulah kerasulan saya sebagai seorang Novis.

Sisca, fcJ
"Panggilan dan jalan Tuhan adalah CINTA ..."
Namaku Sisca,

Merenungkan perjalanan panggilanku sebagai seorang FCJ, ada satu hal yang bisa dijadikan kata kunci untuk mengekspresikannya. Kata itu adalah KASIH. Pengalaman KASIH telah membantuku dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup, termasuk keputusan untuk berkaul pada tanggal 17 Mei 2003 sebagai Suster Sahabat Setia Yesus. Pengalaman yang dalam akan kasih Allah mengundangku untuk tinggal dalam KasihNya dan dalam persahabatan dengan Yesus. Inilah jalan yang kupilih sebagai tanggapanku akan KASIH itu.

Adalah suatu rahmat yang besar bagiku untuk mmepunyai kesempatan merasul setelah berkaul. Aku mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing dan bekerja di Campus Ministry Universitas Katolik Sanata Dharma Yogyakarta. Selain itu, aku juga terlibat kersulan di JOY fellowship, kelompok ekumene kaum muda di Yogyakarta yang memfasilitasi sharing doa dan iman, kursus kepemimpinan Kristen dan seni. Pengalaman-pengalaman kerasulan ini menumbuhkan kekagumanku akan semangat kaum muda yang kulayani. Antusisme dan kebebasan mereka sungguh-sungguh memberiku inspirasai !

Bertemu dengan kaum muda dalam kerasulan memberiku peneguhan bahwa aku juga bisa menjadi saluran kasih Tuhan kepada mereka. Aku berharap agar kasih Yesus mampu menyentuh hidup kaum muda pada masa kini. Di sela-sela kesibukan mereka mengejar pengetahuan dan kesuksesan akademik, kaum muda sebenarnya merindukan nilai-nilai lain yang membawa mereka pada kebahagiaan sejati.

Bagiku, hidup sebagai seorang Sahabat Setia Yesus adalah hidup dalam jalan kasih.

Kasih yang membantuku mengenali secara lebih dalam kehadiran Tuhan dalam diri sesama.
(Sisca is currently studying in Melbourne.)

Wina, fcJ
"Kehausan Yesus
                   dalam Diri Orang Muda ..."

Kerasulan utamaku sebagai suster kaul sementara adalah sebagai pengajar bidang studi matematika sekaligus sebagai konselor di SMA Pangudi Luhur Yogyakarta. Sekolah ini adalah sekolah katolik yang dikelola olah para bruder FIC. Jumlah murid di sekolah ini kira-kira 600 orang (laki-laki dan perempuan).

Setiap hari, selain mengajar matematika, saya menemani para siswa dalam masalah-masalah mereka, seperti masalah dengan teman, dengan guru, amupun dengan keluarga. Ini semua adalah problem-problem yang menghambat kemampuan mereka untuk konsentrasi dalam mengikuti pelajaran di kelas sehingga mempengaruhi kemajuan mereka dalam studi.

Saat saya bertemu dengan mereka secara pribadi, saya seringkali diingatkan oleh kenyataan bahwa ada begitu banyak orang muda saat ini yag merindukan seseorang yang kepadanya mereka bisa percaya dan berbagi tentang diri mereka apa adanya tanpa takut dihakimi maupun dinasehati. Mereka sungguh-sungguh membutuhkan seseorang yang bersedia menemani dan membantu mereka dalam menghadapi masalah mereka sehari-hari. Keterbukaan dan kepercayaan mereka untuk menceritakan diri mereka dan permasalahan mereka seringlkali juga amat menyentuh saya.

Ketika saya mendengarkan kisah/problem mereka dan mengajak mereka merefleksikan pengalaman mereka, saya sering tertantang untuk merefleksikan lebih dalam tentang pengalaman-pengalaman saya sendiri. Jadi perjumpaan saya dengan murid-murid saya sungguh menjadi kesempatan istimewa bagi saya yang membantu saya untuk bertumbuh.

Bagi saya kata-kata Yesus, “Aku haus”, mengingatkan saya bahwa kehausan murid-murid saya akan seseorang yang dapat mereka percaya untuk menemani dan membantu mereka adalah kehausan Yesus di jaman ini.

Kata-kata dari Konstitusi kami, “Di atas segalanya kita adalah Sahabat-sahabat Yesus yang hidupnya harus mewartakan Dia kepada dunia”, juga menjadi kata-kata kunci untuk saya. Kata-kata tersebut menginspirasi saya saat saya menemani murid-murid saya. Oleh karena itu setiap hari saya mohon kepada Tuhan rahmat akan kemampuan mendengarkan, bukan saja dengan telinga melainkan juga dengan hati sehingga saya dapat mendengar “kehausan Yesus” di dalam diri mereka.

Yuni, fcJ
"... aku sungguh merasa dikembangkan
untuk menjadi sahabat mereka."
Salama aku hidup sebagai FCJ dku banyak sekali diberi kesempatan untuk merasul sambil mengembangkan kemampuan-kemampuan diriku. Bentuk kerasulan yang kulakukan selama ini adalah pendidikan, konseling dan pendampingan pastoral. Sebelum aku menjadi fcJ, aku tidak pernah menyadari bahwa aku memiliki kemampuan untuk bekerja di bidang konseling dan pastoral, tetapi sekarang ternyata justru bentuk kerasulan seperti itulah yang paling sering aku alami.

Kerasulanku sekarang ini adalah menjadi pengajar kimia di universitas Sanata Dharma sambil membantu menangani mahasiswa bermasalah di sana serta mengkoordinir biro Campus Ministry di kampus III Paingan yang berusaha untuk melayaní kebutuhan pengembangan rohani dan moral mahasiswa, karyawan dan staf pengajar di sana.

Dalam melakukan kerasulan-kerasulan itu aku begitu menikmatinya... dengan segala jatuh bangunnya. Mengapa??

Karena lewat berbagai pengalaman kerasulanku itu... aku menjadi sangat berkembang dalam hai mencinta,... aku sungguh merasa dikembangkan untuk menjadi sahabat bagi mereka. Menjadi sahabat bagi Yesus berarti menjadi sahabat bagi mereka.

Merasul diantara kaum muda dan menjadi sahabat bagi siapa saja di Sanata Dharma (baik itu tenaga administrasi, cleaning service, tukang kebun, satpam, mahasiswa ataupun dosen) juga membuatku merasa satu dengan sahabat-sahabat dalam serikatku. Mengapa??

Karena lewat kerasulanku ini pula, aku jadi merasa bersatu dengan semangat missi Serikatku, yang berusaha untuk membagikan kharisma persahabatan kami kepada siapa saja kami diutus.

Bentuk persahabatan yang kuhidupi di dalam Serikatku, dalam komunitas dimana aku tinggal sering menjadi sumber inspirasi bagiku, terutrama saat aku menemukan saat-saat yang sulit dalam kerasulanku dan menantangku untuk tetap mencoba menjadi sahabat Yesus bagi mereka.

Bagiku kerasulanku ini adalah ladang untuk menemukan Tuhan dan cinta-Nya,... membagikan cinta itu pada yang membutuhkan... serta tinggal dalam cinta itu, seperti kata Rm. Pedro Arrupe, SJ.

".. falling in love, stay in love and it will decide everything.... "

Semoga dengan semua yang coba aku lakukon dalam kerasulanku ini, nama Tuhan semakin dimuliakan ... dan semakin banyak orang mengalami kebaikan dan cinta Tuhan.

Yustin, fcJ
"Aku sungguh merasa tersentuh oleh orang-orang muda
yang peduli dengan kehidupan spiritual."

Aku mempunyai pengalaman kerasulan selama empat minggu terakhir pada bulan Oktober 2003 di Campus Ministry Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tugasku adalah membantu Sr. Yuni, fcJ yang bertugas sebagai Koordiantor Campus Ministry. Dia meminta aku untuk mengatur ruang doa bagi para mahasiswa, mengerjakan administrasi perpustakaan dan pekerjaan lainnya.

Aku bertemu banyak mahasiswa yang datang ke Campus Ministry. Mereka datang ke Campus ministry sekedar bermain atau untuk membaca buku-buku di perpustakaan. Aku juga bertemu dengan banyak teman yang bekerja di Universitas Sanata Dharma. Aku banyak mengenal mereka karena aku bekerja di Biro Personalia Universitas Sanata Dharma sebelum aku masuk Serikat FCJ.

Aku sungguh merasa tersentuh oleh orang-orang muda yang peduli dengan kehidupan spiritual. Mereka sangat aktif membuat inovasi dalam liturgi, supaya liturgi menjadi semakin menarik. Semangat mereka memberikan energi baru bagiku.

Dalam minggu pertama, Saya pergi ke beberapa toko untuk observasi harga-harga barang yang akan saya gunakan untuk ruang doa. Saya juga observasi harga buku-buku dan beberapa film compact disk untuk keperluan perpustakaan. Selama minggu kedua saya membantu menyiapkan acara talkshow yang diadakan oleh Campus Ministry untuk para mahasiswa. Pada minggu ketiga, Saya mengatur ruang doa.

Sementara mengatur ruang doa, dalam hati saya berharap bahwa banyak orang ( para mahasiswa, dosen maupun karyawan ) akan datang ke ruang doa ini dan berdoa sejenak, supaya mendapat energi dari Tuhan. Minggu keempat, saya menyelesaikan tugasku yang berkaitan dengan perpustakaan. Tugas-tugas ini antara lain membuat katalog buku, memberi label buku-buku yang baru, serta mengatur compact disk films.

Selama kerasulan itu, saya belajar banyak hal. Saya belajar tentang bagaimana melakukan sesuatu dengan membawa karisma FCJ. Saya bekerja sebagai novis FCJ, bukan hanya sebagai diriku sendiri. Karena saya pernah bekerja di universitas itu sebelumnya, saya dapat merasakan perbedaannya sekarang bahwa saya novis FCJ saat ini yang sedang merasul. Saya juga belajar bagaimana mengatur waktu. Saya belajar bagaimana menjaga keseimbangan antara waktu doa dan waktu untuk kerasulan. Pengalaman kerasulan ini sangat berguna dalam bagian perjalanan hidupku.

To read Sr. Yustin's reflections on her novitiate experience of the Tsunami in 2005,
klik di sini